Tidak Semua LPTK Mampu Menyelenggarakan PPG

BeritaGuruku_ Kebijakan pemerintah membuka profesi guru untuk sarjana nonkependidikan dimaknai sebagai tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan tenaga kependidikan. Setidaknya, lembaga tersebut ditantang meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih baik. “Sarjana kependidikan yang berkualitas tentu akan berkompetisi dalam memperebutkan kuota pendidikan profesi guru (PPG) reguler yang kuotanya ditetapkan secara terbatas oleh pemerintah setiap tahun,” ujar Ketua Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan se-Indonesia (LPTKI) Djaali, di Jakarta.

Sebelumnya diberitakan, profesi guru tidak lagi mutlak dilakoni sarjana kependidikan dari lembaga pendidik tenaga kependidikan. Peluang menjadi guru profesional di jenjang pendidikan anak usia dini hingga menengah kini terbuka untuk sarjana nonkependidikan.

Mulai tahun 2017 calon guru yang ikut PPG tidak lagi dari peserta Sarjana Pendidikan saja. Djaali yang juga Seorang Rektor Universitas Negeri Jakarta mengingatkan, menjadi guru bukan hanya dituntut cerdas secara akademik. Namun, harus pula memiliki kompetensi pedagogi dan panggilan jiwa sebagai pendidik. “PPG sudah didesain agar hanya peserta terbaik yang lolos menjadi guru. Kita ingin mempercepat perbaikan kualitas pendidikan nasional,” kata Djaali.

Menurut Djaali, untuk guru produktif SMK dan guru mata pelajaran, peluang memang terbuka juga bagi perguruan tinggi non-LPTK. Adapun untuk guru PAUD dan SD, harus dari lulusan LPTK karena program studinya ada di LPTK.

Advertisment Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta Suyatno, yang juga pengurus Asosiasi LPTK Swasta Indonesia, mengatakan, untuk dapat menjadi penyelenggara PPG, LPTK harus memenuhi syarat akreditasi institusi minimal B dan akreditasi program studi A. Dengan syarat ini, tidak sembarang LPTK yang mampu menyelenggarakan PPG. “Kami mendorong supaya LPTK swasta berbenah. Mereka juga┬ábisa membentuk konsorsium untuk dapat meningkatkan mutu dan kesempatan ditunjuk sebagai penyelenggara PPG,” ujar Suyatno. Menurut Suyatno, dalam penerimaan mahasiswa baru untuk program kependidikan di Uhamka, calon mahasiswa menjalani tes wawancara dan bakat minat. Dengan demikian, sejak awal mahasiswa yang terpilih memang memiliki potensi untuk menjadi pendidik.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia Unifah Rosyidi mengatakan, meski profesi guru terbuka untuk umum, tetap perlu keberpihakan pada lulusan LPTK. Sebab, LPTK didesain untuk menghasilkan lulusan yang siap menjadi pendidik. “Menjadi guru itu bukan hanya menguasai materi pengajaran. Tak kalah penting lagi, panggilan jiwa dan dedikasi sebagai pendidik. Karena itu, LPTK harus terus diperkuat supaya dapat menjadi andalan menghasilkan calon guru profesional,”

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *